Menusuk Jari Dengan Jarum Sebagai Pertolongan Pertama Pada Stroke, Efektifkah?

5 05 2010

Saat paman saya terserang stroke, saya ditelepon dan diharapkan segera datang. Keluarga paman merasa panik dan tidak tahu apa
yang harus dilakukan.

Keluhan yang muncul adalah bicara pelo, kaki kanan terasa lemah, dan tidak bisa menelan. Beliau memang
menderita hipertensi sebelumnya.

Sesampainya di sana, saya mendapati seorang ?tabib? (belakangan saya tahu bahwa beliau tidak memiliki latar pendidikan medis apapun) sedang menusuk ujung-ujung jari paman saya hingga berdarah. Hal itu dilakukannya sampai darah keluar dirasa sudah cukup. Dan selanjutnya ujung jari kaki, tapi akhirnya paman saya menolak karena tidak tahan rasa sakitnya.

Pertanyaannya adalah apakah cara ini efektif?
Menusuk ujung jari dengan jarum (disebut juga Finger Prick) merupakan suatu tehnik yang dikembangkan oleh kedokteran Cinadengan cara mengeluarkan darah pada ujung-ujung jari sebagai metode terapi pasien stroke.

Tahun 2005 penelitian tentang hal ini dipublikasikan di Journal of  raditional Chinese Medicine yang menuliskan bahwa ?Bloodletting puncture pada 12 titik di tangan dapat meningkatkan kesadaran pada pasien dengan trauma otak di area yang kecil.?

Terapi ini dilakukan pada pasien di rumah sakit yang memang telah terdiagnosa stroke, namun belum jelas apakah diperuntukkan untuk penderita SH atau SNH. Jika yang dimaksud stroke dengan melibatkan area yang kecil, maka setidaknya butuh CT-Scan untuk mengetahui kondisi tersebut sebelum dilakukan metode Finger Prick atau Bloodletting puncture.

Tidak ada rekomendasi melakukan tehnik ini di rumah, karena kedokteran Cina merekomendasikan tetap dilakukan di rumah sakit dengan pengawasan medis yang ketat. Berdasarkan ini, maka apa yang dilakukan oleh ?tabib? tersebut pada paman saya jelas tidak berdasar dan bisa dituntut malpraktik.
Logika yang tidak tepat sering digunakan oleh para praktisi Finger Prick ini adalah dengan mengeluarkan angin, maka sumbatan pada pembuluh darah otak bisa segera teratasi. Saya jelas tidak mengerti bagaimana tetesan darah di ujung jari bisa mengeluarkan angin yang menyumbat pembuluh darah otak. Lagipula angin apa yang dimaksudkan di sini? Praktik-praktik semacam inilah yang membuat dokter memandang sinis pada praktisi-praktisi alternatif, karena praktisi alternatif lebih senang menggunakan perasaannya
ketimbang logikanya.

Dan keilmuan seperti inilah yang mencoreng wajah kedokteran alternatif.
Dari situs ini, penulis menjelaskan bahwa tindakan menusuk jari dengan jarum dilakukan pada kasus stroke haemorrhagic, tapi hal itu jelas menuai kontroversi. Testimoni tentang keefektifan metode ini masih banyak diperdebatkan. Apakah memang respon hemodinamik cukup memuaskan? Apakah justru bukannya tambah parah?

Saat terjadi robekan pembuluh darah otak, kenapa kita justru mengeluarkan darah dari dalam tubuh sehingga mengurangi volume darah dan oksigen? Bukankah itu akan sangat membahayakan kondisi si pasien? Selain itu, rasa sakit karena tusukan akan meningkatkan tekanan darah yang sebenarnya justru harus dicegah.
Metode Bloodletting Puncture ini berlandaskan teori Humour (cairan). Ada 4 macam cairan yang dikenal dalam tubuh yaitu : darah (blood), lendir (phlegm), empedu hitam (black bile), dan empedu kuning (yellow bile). Penyakit yang muncul akibat dari ketidakseimbangan cairan ini. Sains kedokteran yang lebih maju menolak terapi berdasarkan cairan ini. Walaupun begitu, praktek ini terus digunakan untuk perawatan stroke, pitam, dan sebagainya hingga awal abad 20.

Saat ini tehnik ini tidak lagi populer, karena dari bukti yang dikumpulkan tehnik ini memang tidak efektif sebagai perawatan stroke (bahkan dalam beberapa kasus justru membahayakan).

Pada awal tahun 1960, bloodletting tidak lagi dilakukan dengan cara menusuk jari dengan jarum, melainkan menyayatnya dengan surgical blade, disebut Venaseksi. Tujuannya adalah untuk mengurangi viskositas (kekentalan) darah pada pasien stroke sehinga meningkatkan asupan oksigen ke jaringan otak. Tapi sayangnya bukti hasil test klinis tentang prosedur ini pun masih belum begitu meyakinkan.

Jadi, Metode Apa Yang Paling Efektif Sebagai Pertolongan Pertama Pada Stroke? tPA (Tissue Plasminogen Activator) yang bertujuan untuk mengatasi sumbatan pada arteri akibat trombus yang bisa menyebabkan multiple stroke, sehingga bisa mencegah kerusakan otak yang lebih parah atau yang lebih luas.

Metode ini hanya dilakukan di ruangan emergensi oleh dokter ahli. Kita tahu bahwa metode-metode untuk menangani kasus stroke bertujuan baik. Namun ingatlah selalu, bahwa tidak ada metode yang sempurna. Semua ada sisi baik dan sisi buruknya. Jadi, tidak bijak jika memandang satu metode dengan sebelah mata saja.

Praktisi kesehatan harus mampu melihat dari kedua sisi, agar metodenya bisa diterapkan pada waktu dan tempat yang tepat. Jika tidak, ia hanya akan membahayakan diri si pasien. (sumber)


Actions

Information

One response

2 07 2010
Tommy Pratama

thanks infonya gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: